Inspirasi

Memaknai Qurban

Gema takbir silih berganti berkumandang di malam 10 Dzulhijjah hingga pagi ini. Subhanallah, suasana Hari Raya Idul Adha yang indah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan puji syukur kepada Allah Dzat Yang Maha Kuasa yang masih memberikan hidup kepada hamba-hambaNya.

Peristiwa Hari Raya Qurban selalu mengingatkan kita kepada kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Tentang kesabaran dan kecintaan Ibrahim kepada Allah. Seorang laki-laki yang ingin sekali mempunyai seorang anak, pelengkap kebahagian hidup. Namun, keinginan itu tidak serta merta terkabul. Ia harus bedo’a, berharap, dan berusaha selama puluhan tahun. Hingga  akhirnya Allah mengaruniainya seorang anak laki-laki. Tak terbayang kebahagian Ibrahim ketika itu. Do’a dan usahanya selama bertahun-tahun akhirnya dikabulkan oleh Allah.

Namun, saat kebahagiaan Ibrahim bergelora seiring anak laki-lakinya, Ismail tumbuh besar, Allah memerintahkan kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail. Sebuah perintah yang tidak masuk nalar manusia. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hati dan perasaan Nabi Ibrahim berkecamuk ketika itu. Menyembelih anaknya sendiri, anak satu-satunya yang telah ditunggu kelahirannya selama bertahun-tahun.

Begitu besarnya rasa cinta Ibrahim kepada Allah, sehingga ia rela melakukan apapun untukNya. Termasuk menyembelih anaknya sendiri. Tetapi, Nabi Ibrahim tidak bertindak otoriter kepada Ismail, ia menanyakan perihal perintah Allah kepada Ismail, anaknya. Dialog ayah dan anak ini diabadikan oleh Allah dalam Surah Ash Shaffat ayat 102, agar menjadi pelajaran untuk kita semua.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim bertaka, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”

Diluar dugaan, Ismail yang masih belia, menjawab ayahnya dengan jawaban yang sangat mulia,

“..Ia menjawab, “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Ibrahim dan Ismail dengan penuh kesabaran dan kepasrahan diri kepada Allah melaksanakan perintahNya. Sesaat ketika Ibrahim hendak menyembelih Ismail, Allah menggantinya dengan seekor domba terbaik. Sehingga Ibrahim tidak menyembelih Ismail, anaknya. Sebuah kepasrahan yang membuahkan hasil yang tidak terduga dan lebih baik.

Begitulah, sebuah kisah abadi yang selalu menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk kita semua. Ketika kita taat dan menyerahkan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan kita nikmat dari jalan yang tak terduga. Janji Allah itu pasti, dan Allah tidak mungkin mengingkari janjiNya. Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa kita masih saja sering ragu melaksanakan perintahNya?

Dalam kehidupan sehari-sehari kita dilarang membicarakan keburukan orang lain, tetapi kita terkadang dengan santainya, dengan asyiknya membicarakan keburukan saudara kita. Kita diperintahkan untuk sholat lima waktu di masjid tepat waktu, tetapi kita masih sering enggan bersegera ke masjid dan meninggalkan pekerjaan kita. Padahal, jelas Allah sangat mencintai hamba-hambaNya yang tepat waktu mendirikan sholat.

Menurut saya, kita ini sangat egois. Kita selalu minta yang terbaik dari Allah. Kita selalu minta agar do’a kita segera dikabulkan. Tetapi, apa yang kita lakukan? Kita masih sering menunda-nunda sholat hanya untuk pekerjaan sepele, atau bahkan perbuatan yang dilarangNya. Apakah ada kata lain lagi selain egois untuk menggambarkan sikap kita yang seperti itu?

Sebenarnya, jika kita mau mengakui, kita hampir tidak pernah memberikan yang terbaik untuk Allah. Kita hanya memberikan sisa untuk Allah. Contohnya, ketika kita sholat, kita tidak benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapnya. Sholat yang kita lakukan seringkali karena pelarian kita dari kelelahan menjalani aktivitas duniawi. Kita juga sering sholat mengenakan baju seadanya. Padahal ketika akan bertemu dengan bupati, gubernur, presiden, atau orang yang menurut kita penting, kita mempersiapkan baju terbaik, dengan parfum yang wangi dan sebagainya. Selain itu, ketika kita bersedekah kita hanya memberikan uang sisa atau uang receh saja.

Maka jangan, mengeluh ketika Allah ‘belum’ memberikan yang terbaik untuk kita. Jangan kemudian kita berputus asa ketika Allah ‘belum’ mengabulkan do’a kita. Justru tanyalah kepada diri kita, apa yang sudah kita berikan kepada Allah. Apakah saya sudah menyerahkan segala urusan kepada Allah. Apakah saya sudah menaati perintah Allah dan meninggalkan semua yang di haramkanNya. Apa kita sudah memberikan yang terbaik untuk Allah.

Semoga hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tentang mendekatkan diri kepada Allah (Qurban) teringat selalu di hati kita. Agar kita selalu bersegera dan mengutamakan Allah di atas segalanya. 🙂

Advertisements

About sanggha

Sebisa mugkin ingin berbagi dan menebar kebaikan.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Catatan Qurban 2013 - KOPI INSPIRASI - November 20, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Advertisements
%d bloggers like this: