Inspirasi, Refleksi

Menanggapi Dengan Positif

Dalam mengambil keputusan kita akan ‘dipengaruhi’ oleh pola pikir kita. Sedikit banyak pasti begitu. Selain karena keadaan lingkungan yang turut mempengaruhi tentunya. Bagaimana cara kita berpikir dan menanggapi segala sesuatunya sangat mempengaruhi kehidupan kita selanjutnya. Entah itu jangka panjang maupun jangka pendek.

Saya masih ingat cerita yang pernah saya baca ketika saya masih duduk di bangku SD. Tidak begitu tahu apakah ini cerita dari kisah nyata atau hanya cerita fiksi. Tapi menurut saya, cerita ini cukup menarik. Saya kutipkan seingat saya ya. Maklum sudah cukup lama :D.

Alkisah, ada sebuah keluarga yang hidup serba berecukupan. Seorang suami yang memiliki perusahaan besar, dan seorang istri cantik yang taat. Mereka dikarunia dua orang putra yang sehat dan tentu saja lucu.

Keadaan yang begitu menyenangkan itupun tidak selamanya berpihak untuk mereka. Ayah dari dua anak yang kini sudah mengenyam pendidikan dasar, sudah mulai terlihat tua. Ditambah Sang Ayah mengidap penyakit misterius. Mereka dibantu oleh kerabat sudah mengupayakan untuk mengobati ‘tulang punggung keluarga’ mereka ke berbagai rumah sakit. Bahkan sempat mencoba rumah sakit kelas elite di luar negeri. Namun semua dokter akhirnya angkat tangan.

Keadaan tidak juga membaik. Justru sebaliknya. Bawahan yang menangani perusahaannya tidak mampu mempertahankan perusahaan dari krisis yang melanda. Bangkrut tidak bisa dihindari.

Sementara ia merasa bahwa waktunya sudah akan tiba, dipanggilnyalah istri tercinta dan kedua anaknya. “Sepertinya waktuku sudah akan tiba. Pesanku untuk kalian berdua, jagalah Ibu kalian, apapun yang terjadi patuhilah perintah Ibu. Lalu, jangan pernah menagih utang. Dan yang terakhir, jangan biarkan diri kalian terbakar sinar matahari.”

“Apa maksud Ayah?” Tanya anak pertama tidak paham dengan pesan ayahnya. Tapi sebelum sempat terbalas, Sang Ayah sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Waktu terus berganti, tahun-tahun pun terus bergulir. Mereka harus memulai hidup mereka dari nol. Setelah Sang Ayah meninggal keadaan ekonomi mereka jatuh sejatuh-jatuhnya. Sang Ibu hanya bisa membuat kue-kue dan jajanan yang dijual oleh dua anaknya. Namun itu hanya cukup untuk makan mereka sehari-harinya. Terkadang mereka harus mengutang untuk keperluan lain.

Singkat cerita, mereka pun beranjak dewasa dan sudah hidup sendiri-sendiri. Anak pertama hidup sendiri dan Ibu hidup bersama anak keduanya.

Suatu ketika, Sang Ibu rindu kepada anak-anaknya. Lalu, bersama anak keduanya Sang Ibu mengunjungi anak pertamanya. Namun ia terkejut ketika mendapati keadaan anak pertamanya tidak seusai dengan yang dikiranya. Anak pertamanya hidup miskin. Sekarang ia tahu, mengapa anak pertamanya sering mengeluh dalam surat yang selalu dikirim untuknya. “Anakku, apa yang menjadi penyebab engkau hidup miskin seperti ini?”

“Aku hanya mencoba mematuhi apa kata Ayah dulu, Bu. Ayah berpesan untuk tidak menagih hutang. Aku tidak pernah menagih orang yang berhutang kepadaku. Aku hanya menerima ketika mereka dengan sadar membayarnya. Tapi inilah yang menyebabkan, mereka merasa enak bahkan tidak membayar hutang. Lalu, Ayah berpesan agar aku tidak terbakar sinar matahari. Oleh karena itu aku tidak bisa maksimal dalam bekerja mencari uang. Itulah kenapa aku bisa hidup semiskin ini, Bu.”

Anak kedua yang hidup sebaliknya, serba berkecukupan, angkat bicara. “Aku juga hanya menjalankan perintah ayah dulu Kak. Ayah berpesan untuk tidak menagih hutang, maka aku tidak pernah membiarkan orang lain berhutang. Untuk barang yang aku jual, aku selalu meminta pembayaran di awal. Lalu, untuk pesan agar kita tidak boleh terbakar sinar matahari, aku selalu berangkat bersekolah dulu dan bekerja dari pagi-pagi sekali. Aku hanya akan pulang ke rumah ketika matahari sudah tenggelam. Begitu seterusnya. Aku selalu memaksimalkan waktu yang ada.”

Dalam kisah ini kita dapat mengambil pelajaran tentang perbedaan pola pikir setiap orang. Mungkin bagi beberapa orang hal ini sepele. Tapi ketahuilah bahwa dampak dari setiap pola pikir akan sangat berpengaruh untuk kita, saat ini dan untuk masa depan kita.

Pandanglah sesuatu dari sudut pandang positif. Usahakan selalu seperti itu. Selalu berpikir terbukalah, dan jangan lupa banyaklah membaca. Karena ketika seseorang banyak membaca saya yakin itu akan membantu orang tersebut dalam melihat dari sudut pandang yang lebih cerdas.

InsyaAllah ketika kita selalu memandang segala sesuatunya dari sudut pandang positif, proses dan hasil yang akan kita lalui pasti akan positif juga. 🙂

Advertisements

About sanggha

Sebisa mugkin ingin berbagi dan menebar kebaikan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Advertisements
%d bloggers like this: