Inspirasi, Refleksi

Boarding Pesawat

Tanggal 5 November ini adalah tahun baru pada kalender Hijriyah atau tahun baru Islam. 1 Muharram 1435 H. Tahun baru Islam adalah momen penting dimana dahulu para sahabat melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Dimana peristiwa tersebut tercacat sebagai peristiwa penting dalam Islam.

Bermulanya babak baru biasanya akan dibarengi dengan pemaknaan. Seperti pada tahun baru Masehi dimana mayoritas orang akan menetapkan resolusi tahun baru dan sebagainya. Tapi, saya rasa jika hanya pemaknaan saja, tidak perlu menunggu momen penting. Toh, tekad melakukan perubahan itu hadir dari dalam diri sendiri. Hanya saja memang momen-momen penting akan menghadirkan atmosfer yang mendukung untuk itu.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan pelajaran yang sangat penting. Tentang proses boarding yang merupakan prosedur umum saat kita akan naik pesawat. Tentu bagi teman-teman yang pernah naik pesawat paham apa yang dimaksud dengan boarding. 

Boarding adalah proses menaikkan penumpang ke dalam pesawat. Sebelum masuk ke dalam pesawat para penumpang bisa menunggu di lounge atau gate yang disediakan. Saat akan melewati boarding gate, penumpang akan diberikan boarding pass yang berisi nama penumpang, tujuan penerbangan, nomer ruang tunggu, dan nomer seat.

Bagi saya, prosedur boarding adalah yang paling menarik. Karena kita diharuskan untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan ini tak terkecuali siapapun kita. Kita harus menunggu beberapa jam sebelum keberangkatan pesawat, sesuai dengan tujuan keberangkatan kita. Untuk domestic flight boarding dilakukan 1 jam sebelum keberangkatan. Untuk international flight 2 jam dan khusus untuk middle east flight 3 jam.

Dulu saya pernah boarding jam 5 pagi karena kebetulan jam keberangkatan pesawat saya jam 6. Tentu saja saya harus datang sebelum jam 5 pagi. Sampai-sampai shalat shubuh pun saya dirikan di bandara. Tentu saja ketika itu bandara sudah sangat ramai. Ratusan orang sudah hilir mudik, bersiap-siap untuk keberangkatannya atau sekedar mengantar sanak saudaranya pergi.

Satu hal yang menjadi cacatan saya. Kenapa orang rela datang satu jam lebih awal sebelum keberangkatan dan harus menunggu lama. Mungkin alasan utamanya adalah uang. Ya, uang memang menjadi alasan kebanyakan orang takut ketinggalan pesawat. Satu menit saja terlambat, jutaan rupiah yang sudah kita bayar bisa hangus. Karena itu, kita rela menunggu pesawat dan datang ke bandara hingga berjam-jam.

Lalu, apa hubungannya pesawat dan tahun baru hijriyah yang saya bahas di atas?

Secara langsung memang tidak ada. Tapi dari beberapa pengalaman boarding yang saya alami, ada hubungannya dengan hijrah.

Saya kemudian terpikir proses boarding pesawat dengan shalat yang kita lakukan setiap hari. Kita rela menunggu 1 jam bahkan lebih untuk setiap keberangkatan pesawat, tapi adakah diantara kita yang mau menunggu 1 jam sebelum shalat di masjid. Mungkin kita akan menyesal bahkan sampai menuntut pihak maskapai jika kita tertinggal pesawat. Namun, adakah diantara kita yang menyesal ketika tertinggal satu rakaat shalat jamaah di masjid. Jangankan satu rakaat, jangan-jangan tertinggal keseluruhan rakaat shalat saja kita tenang-tenang saja. Astaghfirullah…

Alasan utama kebanyakan orang memang hanya uang yang jumlahnya tidak sedikit akan hangus kalau kita tertinggal pesawat. Ya, hanya uang yang notabenenya sedikitpun tidak akan membawa manfaat kepada kita, jika tidak kita gunakan di jalanNya.

Sebagai contoh, kita bahkan tenang-tenang saja saat terlewat shalat sunnah fajr yang ganjarannya setara dengan dunia seisinya. Ya, dunia seisinya, jauh lebih besar daripada uang yang ‘hanya’ jutaan rupiah saja. Pantas saja  shalat sunnah fajr tidak pernah dilewatkan oleh Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassalam.

Bagaimana dengan shalat wajib lainnya? Masihkah kita meneruskan kesibukan duniawi kita saat adzan sudah berkumandang? Masihkah kita menunggu iqomah padahal adzan-lah yang kita sebut ‘panggilan shalat’? Atau masihkah kita menganggap urusan duniawi lebih penting dan melalaikan shalat?

Padahal, salah satu hal yang paling dicintai Allah adalah asshalatu ‘ala waktiya. Shalat pada waktunya. Shalat tepat waktu akan berdampak jauh lebih baik. Selain melatih disiplin, kita juga berlomba-lomba menjadi hamba yang dicintai Allah dengan melaksanakan hal yang paling dicintaiNya.

Saya rasa, satu hal kecil ini akan berdampak besar pada hijrah kita. Dan saya harap tulisan singkat ini  bisa mengingatkan kita untuk lebih memperhatikan shalat kita. Amalan yang pertama kali dihisab dan menjadi kunci dari amalan-amalan kita kelak.

“Tentang kedisiplinan seorang muslim, maka lihatlah dia dari shalatnya.” -MS

Advertisements

About sanggha

Sebisa mugkin ingin berbagi dan menebar kebaikan.

Discussion

3 thoughts on “Boarding Pesawat

  1. wah ketoke sepele, padahal ini fundamental.. (kesindir banget)
    dan kadang banyak yang ngeles dengan beralasan : “better late, than never”

    Posted by fnugrahendi | November 5, 2013, 2:15 pm
  2. Reblogged this on ALLAH DULU, ALLAH LAGI, ALLAH TERUS! and commented:
    astagfirullah 😦

    Posted by fatimahnrlk | November 6, 2013, 4:22 am
  3. Setuju banget dan ketampar ..kdg kita santai dan mendirikan sholat dg dalih drpda telat mndingan solat djln dan bla bla bla.. Pdhl gda yg jamin,.klo Allah udh menjamin semuanya hanya dg bth wkt kurleb 5-10mnt..
    Ya rabb

    Posted by Ggeut intan p | April 13, 2016, 9:03 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: